Sunday, November 18, 2012

TEORI TUNGKU METAL


Teori Tungku Mental


Bulan Oktober hingga November 2008 saya menyelenggarakan 2 (dua) kelas pelatihan 100 jam sertifikasi hipnoterapis. Satu di Jakarta dan satu lagi di Surabaya. Dari sekian banyak teori dan teknik yang akan diajarkan, satu yang sangat penting adalah Teori Tungku Mental.

Teori ini saya bangun berdasar informasi dan pengetahuan yang saya dapatkan dari berbagai literatur yang saya pelajari ditambah dengan pengalaman praktik saya. Teori inilah yang sebenarnya mendasari Quantum Hypnotherapeutic Procedure yang diajarkan di Quantum Hypnosis Indonesia.

Nah, sebelum saya menjelaskan mengenai Teori Tungku Mental, saya akan bercerita sedikit mengenai kasus yang saya pelajari melalui berbagai literatur dan kasus yang pernah saya tangani. Dalam artikel ini saya hanya akan memberikan satu contoh kasus yang bersumber dari literatur.

Dalam buku Trance & Treatment : Clinical Use of Hypnosis, David Speigel menceritakan satu kasus yang sangat menarik yang pernah ia tangani. Ada seorang veteran perang Vietnam. Veteran ini setelah menjalani tugas dengan track record yang sangat baik selama 15 tahun tiba-tiba berubah dan akhirnya mengalami “gangguan” dan akhirnya harus dimasukan ke rumah sakit jiwa.

Veteran ini, sebelum ditangani oleh Davied Spiegel, seorang psikiater yang mendalami dan mempratikkan hipnoterapi, didiagnosa menderita “gangguan kecemasan sangat tinggi” hingga mengalami halusinasi. Ia juga pernah dimasukkan ke Palo Alto Veterans Administration Medical Center setelah mencoba melakukan tindakan bunuh diri. Ia depresi dan cenderung melakukan tindakan berbahaya namun ia tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya.

Setelah Spiegel melakukan Hypnotic Induction Profile (HIP) dan didapatkan hasil 4, intact/utuh,  dengan skor induksi 10,selanjutnya dilakukan Age Regression.

Singkat cerita Spiegel berhasil menemukan akar masalahnya. Veteran ini ternyata dulu waktu bertugas di Vietnam punya seorang angkat yang sangat ia sayangi. Anak angkatnya tewas saat Vietcong menyerang rumah sakit tempat ia bertugas. Veteran ini merasa begitu bersalah, karena tidak bisa melindungi anaknya, merasa marah, dendam dan benci yang luar biasa kepada serdadu Vietcong yang menewaskan anaknya. Rupanya, berbagai emosi negatif ini tidak mendapat penanganan semestirnya. Setelah dibantu oleh Spiegel veteran ini sembuh.

Namun 6 bulan kemudian veteran ini kambuh lagi saat, hanya dalam waktu 2 minggu, salah seorang kakaknya, seorang polisi, terbunuh, dan istri veteran ini mulai “melirik” pria lain, ditambah lagi seseorang menembak mati anjing kesayangannya. Setelah dirawat sebentar di rumah sakit ia kembali sembuh.

Kasus ini oleh David Spiegel diulas lengkap di artikel yang berjudul Vietnam Grief Work Using Hypnosis dan dimuat di The American Journal of Clinical Hypnosis (24(1): 33-40, 1981)

Kasus yang pernah saya tangani antara lain kasus seorang klien, seorang pria muda berusia 26 tahun, yang takut ayam, lebih spesifik lagi paruh ayam.

Setelah saya cari akar masalahnya ternyata klien ini takut pisau. Saya gali lagi akhirnya saya menemukan ISE (Initial Sensitizing Event) pada saat klien berusia 4 tahun. Klien mengalami sesuatu hal dengan ibunya dan membuatnya sangat marah dan benci ibunya.

Nah, kebencian ini berubah menjadi rasa sakit yang luar biasa bila ia dipeluk oleh ibunya. Rasa sakit ini mengambil wujud sakit seperti bila tubuh ditikam dengan puluhan pisau sekaligus. Selanjutnya “sakit karena ditikam pisau” ini bermutasi menjadi ketakutan pada paruh ayam. Saya menyebut kondisi ini dengan “double symptom”.

Kasus lain adalah klien wanita muda, usia 21 tahun yang, menurut orangtuanya, berubah dan tidak semangat menjalani hidup. Klien ini telah 8 (delapan) bulan minum obat agar bisa tenang dan kembali “normal”. Dengan teknik tertentu saya membantu klien ini untuk menemukan akar masalahnya, membereskannya, dan setelah itu klien bisa kembali hidup normal tanpa perlu mengkonsumsi obat.

Saya membutuhkan 2 (dua) sesi dengan klien ini. Sesi pertama walaupun terlihat “tuntas” namun saya tahu belum tuntas. Dari mana saya tahu? Saya tahu karena saya belum menemukan ISE. Saya berhasil menemukan beberapa SSE (Subsequent Sensitizing Event). Namun klien belum bersedia mengungkapkan ISE kepada saya. Dan saya juga tidak bisa memaksa klien. Saya membantu klien sesuai dengan kecepatan dan kesiapan diri klien.

Setelah sesi pertama klien langsung berubah dan merasa sangat nyaman. Saya juga mendapat laporan dari orangtua klien mengatakan hal yang sama. Namun tiga hari kemudian saya mendapat kabar bahwa klien kembali ke pola lamanya. Klien kembali ke kondisi seperti sebelum saya tangani.

Selanjutnya saya memberikan sesi kedua. Nah, pada sesi kedua ini saya berhasil membantu klien menemukan akar masalahnya (ISE). Begitu ISE berhasil dibereskan segera terjadi perubahan. Dan perubahan ini bersifat permanen.

Oh ya, satu hal yang perlu saya tegaskan di sini. Anda jangan salah mengerti ya. Saya bukan dokter atau psikiater. Saya tidak pernah berani dan tidak punya kapasitas untuk meminta klien berhenti minum obat. Yang saya lakukan hanyalah membantu klien mengatasi masalah mereka, dengan keterampilan yang saya pelajari. Soal obat, saya meminta klien untuk konsultasi atau kembali ke dokter yang menanganinya. Dokter yang memberi obat maka dokter yang boleh memutuskan apakah klien perlu terus minum obat atau berhenti, dengan melihat perkembangan terakhir pasien.

Pembaca, dari tiga kisah yang saya jelaskan di atas, bisakah anda menarik benang merahnya?

Jika belum, ijinkan saya untuk mengulas kembali, tapi singkat saja ya, mengenai cara kerja pikiran.

Dualisme Pikiran

Kita punya dua pikiran yaitu pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Kedua pikiran ini mempunyai fungsi dan tugas masing-masing. Kedua pikiran ini bekerja sama dan saling mempengaruhi.

Pikiran sadar mempunyai 5 fungsi/komponen yaitu analitis, rasional, kekuatan kehendak, faktor kritis, dan memori jangka pendek.

Pikiran bawah sadar mempunyai 10 fungsi/komponen, antara lain: menyimpan memori jangka panjang, emosi, kebiasaan, dan intuisi.

Nah, masing-masing pikiran ini, pikiran sadar dan bawah sadar, mempunyai tugas melindungi diri kita. Pikiran sadar melindungi diri kita dari hal yang (dipandang) membahayakan diri kita, berdasar “pandangan” fungsi pikiran yaitu rasional dan analitis.

Menurut Milton Erickson pikiran bawah sadar melindungi diri kita dari hal-hal yang ia pandang membahayakan keselamatan fisik dan emosi kita.

Charles Tebbets dalam bukunya, yang kini telah menjadi buku klasik, Miracles on Demand, mengatakan, “Conscious mind is the mind of choice. Subconscious mind is the mind of preference. We choose what we prefer.”

Tebbets juga melanjutkan dengan menyatakan bahwa hipnoterapi bekerja berdasar prinsip sebagai berikut:

-Semua perilaku mal-adaptive adalah hasil atau akibat dari respon penyesuaian yang tidak tepat, yang dipilih untuk memenuhi kebutuhan di masa kecil yang sebenarnya sudah tidak sesuai/relevan dengan kondisi saat dewasa.
-Kebanyakan penyakit bersifat psikosomatis dan dipilih secara tidak sadar untuk melarikan diri dari suatu situasi, yang oleh klien, dipandang sebagai kondisi dengan muatan tekanan emosi destruktif yang berlebihan, seperti kemarahan, kebencian, dendam, dan takut, yang melebihi kemampuan klien untuk mengatasinya saat itu.

Sebenarnya ada satu lagi yaitu pikiran nir-sadar. Tapi dalam kesempatan ini saya tidak akan membahas mengenai fungsi dan cara kerjanya.

Tungku Mental

Untuk memudahkan pemahaman mengenai mekanisme pikiran bawah sadar saya menggunakan analogi tungku mental. Tungku mental berisi air (baca: berbagai buah pikir/thought). Api yang memanasi tungku adalah berbagai emosi, baik itu yang positif maupun negatif, yang dialami seseorang.

Dalam kondisi normal saat api membakar tungku maka temperatur akan naik dan sampai pada suhu tertentu akan muncul uap air yang bergerak bebas ke atas karena tungku tidak ditutup. Namun apa yang terjadi bila tungku ditutup rapat?

Saat temperatur semakin tinggi, karena terus dipanasi oleh api emosi, terutama yang negatif,  maka akan muncul uap yang bergerak ke atas. Namun kali ini uap tidak bisa keluar karena terperangkap di dalam tungku yang ditutup rapat. Semakin lama suhu tungku semakin tinggi, semakin banyak uap yang terperangkap, sehingga tekanan uap semakin tinggi menekan seluruh dinding dalam tungku.

Apa yang terjadi bila tungku tetap ditutup rapat?

Benar sekali. Sampai pada satu titik, saat tekanan uap melebihi daya tahan dinding tungku, maka akan terjadi ledakan hebat dan tungku akan hancur berantakan.

Nah, bagaimana dengan manusia? Jangan khawatir, kita tidak akan meledak seperti contoh tungku di atas. Pada manusia, pikiran bawah sadar akan melindungi diri kita dengan melakukan hal-hal yang dipandang perlu untuk menyelamatkan diri kita dari “kehancuran”.

Apa yang akan dilakukan pikiran bawah sadar?

Pikiran bawah sadar akan membuat retak-retak kecil di tungku mental kita sehingga ada jalan keluar bagi uap yang berada di dalam tungku mental. Dengan demikian tekanan akan turun dan tidak membahayakan keutuhan tungku mental.
Nah, saat uap dari dalam tungku keluar dan berbunyi …sssshhh……ssssshhhh….pada saat itulah seseorang akan mengalami perubahan perilaku.

Perubahan perilaku ini adalah manifestasi dari uap yang keluar. Biasanya perubahan ini tidak mendadak. Tetapi perlahan-lahan dan semakin lama semakin parah.

Apa yang kita lakukan terhadap orang yang telah mengalami perubahan perilaku?

Kita cenderung akan meluruskan perilakunya, benar nggak?

Apakah bisa?

Oh, sudah tentu bisa. Ada banyak cara dan teknik yang biasa digunakan. Pertanyaannya adalah perubahan menjadi “normal” kembali ini bisa bertahan berapa lama?

Seringkali tidak bisa bertahan lama. Nanti pasti akan muncul lagi perilaku yang “aneh”. Mengapa ini terjadi? Karena kita hanya menyumbat retak di dinding tungku. Saat uap sudah tidak keluar maka perilaku orang itu menjadi normal.

Dan karena kita tidak mencari sumber masalahnya, yaitu api yang berada di bawah tungku (baca: emosi yang belum terselesaikan) maka cepat atau lambat tekanan uap di dalam tungku kembali naik dan sampai pada satu titik akan terjadi kebocoran lagi.

Pembaca, dengan membaca sejauh ini saya yakin anda pasti sampai pada kesimpulan bahwa simtom adalah sesuatu yang positif. Simtom adalah bentuk komunikasi dari pikiran bawah sadar ke pikiran sadar yang mengatakan, “Hei… ini ada masalah di bawah sini. Anda perlu menyelesaikan masalah ini. Kalau anda tetap tidak mau mengerti atau tidak bersedia menyelesaikan masalah ini maka saya akan tetap mengganggu anda.”

Masalahnya adalah bukan kita tidak  mau menyelesaikan masalah tapi kita seringkali tidak memahami pesan yang disampaikan pikiran bawah sadar. Dan seringkali saat kita mau menyelesaikan masalah ini kita tidak tahu caranya atau teknik yang digunakan tidak tepat.

Lalu, bagaimana cara efektif untuk mengatasi hal ini?

Pertama, kita perlu mengeluarkan uap yang terjebak di dalam tungku. Bagaimana caranya? Gunakan uap itu sebagai petunjuk untuk menemukan retak di dinding tungku. Ini yang dikatakan oleh Milton Erickson dengan “The Symptom is the solution”.

Setelah uapnya berhasil kita keluarkan dan tekanan sudah habis selanjutnya kita bisa membuka tutup tungku. Bisa anda bayangkan apa yang terjadi bila tutup tungku dibuka saat tekanannya masih sangat tinggi. Ini sama dengan membuka tutup radiator mobil saat masih panas. Sangat berbahaya.

Isi tungku adalah konten atau memori yang berhubungan atau yang membuat munculnya simtom. Setelah ini barulah kita bisa menemukan sumber api dan sekaligus memadamkan apinya.
Apa yang terjadi bila api berhasil dipadamkan? Sudah tidak ada lagi yang memanasi tungku mental. Dengan demikian temperatur tidak akan naik. Dan sudah tentu tidak akan ada uap yang menekan dinding tungku. Tidak akan terjadi retak dan kebocoran. Klien akan kembali menjalani hidup dengan normal.

Mengapa Direct Suggestion Tidak Efektif?

Dalam menangani berbagai kasus dengan muatan emosi yang tinggi, sudah tentu yang saya maksudkan di sini adalah emosi negatif, maka Direct Suggestion tidak efektif.

Mengapa tidak efektif? Karena Direct Suggestion hanya mengeliminir simtom, bukan akar masalah. Salah satu sifat pikiran bawah sadar adalah malas untuk berubah. Pikiran bawah sadar menilai sesuatu sebagai hal yang benar atau tidak benar bukan berdasarkan kebenaran yang sungguh-sungguh benar, namun lebih berdasarkan data yang tersimpan di database di pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar beroperasi berdasar hukum Familiarity atau yang juga  dikenal dengan Knowns and Unknowns.

Dari uraian di atas kita tahu bahwa sakit atau simtom sebenarnya suatu mekanisme perlindungan yang digunakan oleh pikiran bawah sadar untuk “menyelamatkan” seseorang. Jadi, saat pikiran bawah sadar merasa sudah “benar” dengan membuat seseorang menjadi “sakit” maka, jika dipaksa berubah dengan menggunakan Direct Suggestion, sudah tentu ia akan menolak. Dan semakin kita paksa maka ia semakin melawan dengan meningkatkan intensitas “sakit” atau “gangguan”.

Ada 4 langkah yang harus dilakukan untuk bisa menghilangkan simtom dengan cepat, efektif, efisien, dan  permanen:

1.Memori yang berhubungan dengan atau yang mengakibatkan munculnya simtom harus dibawa naik ke permukaan dan diketahui secara sadar.
2.Perasaan yang berhubungan dengan memori ini harus dialami kembali.
3.Hubungan antara simtom dan memori harus diketahui.
4.Pembelajaran bawah sadar atau yang bersifat emosi harus terjadi dan memungkinkan klien untuk membuat keputusan di masa depan tanpa terpengaruh oleh konten yang telah dimunculkan.

Teknik terapi yang semata-mata hanya menggunakan Direct Suggestion mampu “menyembuhkan” klien. Namun “kesembuhan” ini tidak akan berlangsung lama. Beberapa saat kemudian akan muncul lagi simtom, bisa simtom yang lama atau bahkan yang baru. Kesembuhan ini sebenarnya adalah akibat dari penambalan terhadap retak di dinding tungku mental sehingga uap untuk sementara waktu tidak bisa keluar.

Contoh Kasus

Saya akan menutup artikel ini dengan beberapa contoh kasus yang berhasil ditangani dengan menggunakan Teori Tungku Mental.
Pertama, kasus seorang klien, wanita 39 tahun, yang mengeluh bahwa pikirannya suka sekali menghitung angka (counting numbers), dan kalau mandi lama sekali.

Wanita ini mengatakan bahwa ia mengalami OCD (Obsessive Compulsive Disorder). Saya tidak tahu apakah benar ia mengalami OCD atau bukan. Mengapa? Karena ini adalah istilah yang digunakan di dunia psikologi atau psikiatri. Saya bukan psikolog atau psikiater. Jadi saya tidak bisa menggunakan istilah ini.

Berdasar Teori Tungku Mental maka saya melihat perilakunya sebagai bentuk kebocoran uap dari tungku mentalnya. Nah, tugas saya adalah, dengan berbagai teknik yang saya pelajari dan kuasai, mencari dan menemukan sumber apinya, lalu membantu klien ini mematikan apinya.

Proses uncovering membawa klien pada usia tiga belas tahun. Sesuatu terjadi di sini. Saya membantu klien mematikan apinya. Besoknya saya diberitahu klien bahwa ia mandinya sudah normal dan juga sudah tidak menghitung angka.

Kasus kedua adalah kasus yang ditangani salah satu alumnus QHI. Alumnus ini berhasil mengobati seorang wanita, usia 29 tahun, yang alergi terhadap gula atau sesuatu yang manis seperti permen atau minuman Coca Cola. Setiap kali makan atau minum yang manis maka badan klien ini akan langsung bengkak dan gatal.

Anehnya, kalau makan nasi atau roti badannya biasa-biasa saja. Padahal nasi atau roti mengandung karbohidrat yang setelah masuk ke badan akan menjadi gula.
Kembali lagi, dengan Teori Tungku Mental, alumnus ini berhasil membantu klien menemukan apinya.

Apa yang terjadi?

Pada usia 3 tahun klien ini melihat kejadian yang tidak semestinya ia lihat dan setelah itu ia diberi permen. Ini adalah ISE. Selanjutnya terjadi beberapa peristiwa lagi, yang sebenarnya adalah SSE-SSE, pada usia yang berbeda. Akhirnya pada saat SMP baru muncul alergi permen.

Berapa sesi yang dibutuhkan untuk membantu klien ini? Hanya 1 (satu) sesi saja.

Contoh ketiga adalah klien yang berusia 40 tahun. Keluhan klien ini adalah ia tidak bisa minum air putih. Setiap kali minum air putih maka perutnya akan sakit dan langsung muntah. Tapi bila airnya diberi sirup, atau gula, atau dibuat teh atau kopi, maka tidak ada masalah. Setelah diselidiki ternyata klien tidak bisa minum air putih sejak usia 4 tahun.

Dibutuhan hanya 1 (satu) sesi saja untuk menemukan sumber api dan memadamkannya. Setelah itu klien langsung bisa minum air putih.

Bagaimana dengan fobia? Prinsipnya sama saja.

Pembaca, anda pasti bertanya, “Bagaimana caranya untuk bisa menemukan api dengan cepat?”

Akan sangat panjang bila saya jelaskan di sini. Inilah yang saya berikan di kelas pelatihan 100 jam hipnoterapi yang diselenggarakan oleh Quantum Hypnosis Indonesia.




English :

Theory of Mental Furnace 

October to November 2008 I held two (2) 100 hours of certification training class hypnotherapist. One in Jakarta and one in Surabaya. Of the many theories and techniques will be taught, a very important one is the theory of Mental Furnace.

I woke up this theory based on the information and knowledge I have gained from the literature that I have learned coupled with my practical experience. The theory underlying this is exactly what is taught Procedure Hypnotherapeutic Quantum Quantum Hypnosis in Indonesia.

Now, before I explain the Theory of Mental Furnace, I'll tell you a little about the case that I have learned through the literature and cases that I've handled. In this article I will just give one example of that comes from the literature.

In the book Trance and Treatment: Clinical Use of Hypnosis, David Speigel tells a very interesting case he had ever handled. There was a veteran of the Vietnam War. This veteran after serving tasks with an excellent track record for 15 years suddenly turned and finally experienced a "nuisance" and finally had to put into a mental hospital.

Veteran, before handled by Davied Spiegel, a psychiatrist who studied and mempratikkan hypnotherapy, was diagnosed with "anxiety disorder is very high" to experience hallucinations. He has also been incorporated into the Palo Alto Veterans Administration Medical Center after trying to commit suicide. He was depressed and tend to perform malicious acts, but he does not know what the cause.

After Spiegel did Hypnotic Induction Profile (HIP) and the obtained results 4, intact / intact, with a score of induction 10, Age Regression is then performed.

Long story short Spiegel managed to find the root of the problem. Veteran proved first time serving in Vietnam has a lift which she loved. His adopted son were killed when the Vietcong attacked the hospital where he was in charge. Veteran's feeling so guilty, because they can not protect their children, feel anger, resentment and hate extraordinary for Vietcong soldiers who killed his son. Apparently, many of these negative emotions do not get treatment semestirnya. Having assisted by Spiegel veterans heal.

However, 6 months later it recurred as veteran, in just 2 weeks, one brother, a policeman, was killed, and the veteran's wife started "glancing" another man, plus someone shot and killed his dog. After being treated in hospital for a while he came back cured.

This case reviews by David Spiegel full article titled Vietnam Grief Work Using Hypnosis and published in The American Journal of Clinical Hypnosis (24 (1): 33-40, 1981)

I've handled cases such as the case of a client, a young man aged 26 years, who are afraid of chickens, more specifically, half of the chicken.

Once I find the root of the problem turned out to be the client's fear of knives. I dug further I finally found the ISE (initial sensitizing event) during the 4-year-old client. Clients experiencing something with his mother and made him very angry and hate her mother.

Well, hate is turning into an incredible pain when he was embraced by his mother. The pain is taking the form of a pain as when the body pierced with dozens of knives. Furthermore, "sick as a knife stabbed" mutates into fear at the half chicken. I call this condition "double symptoms".

Another case is the client's young women, 21 years of age, according to his parents, and did not change the spirit of life. This client has 8 (eight) months of taking the medication in order to calm and return to "normal". With certain techniques I help clients to find the root of the problem, fix it, and after that the client can return to normal life without drugs.

I need 2 (two) sessions with clients. The first session although it looks "finished" but I know not yet complete. Where do I know? I know because I have not found the ISE. I managed to find some SSE (sensitizing Subsequent Event). However, the client has not been willing to disclose the ISE to me. And I also can not force the client. I assist clients in accordance with the speed and readiness of the client.

After the first session the client immediately turned and felt very comfortable. I also received a report from the client's parents said the same thing. But three days later I got word that a return to the old pattern. Clients return to the conditions before I signed.

Next I gave the second session. Well, in this second session I managed to help clients find the root of the problem (ISE). Once ISE successfully solved soon change. And this change is permanent.

Oh yeah, one thing I need to reiterate here. You do not misunderstand ya. I'm not a doctor or a psychiatrist. I never dared, and do not have the capacity to ask the client to stop taking the medication. All I do is help clients solve their problems, with the skills I learned. Problem drug, I ask the client for a consultation or go back to the doctor in charge. Physicians who administer medications the physician may decide whether the client should continue or stop taking medication, the patient's view of recent developments.

Readers, of three stories that I described above, you can pull the red thread?

If not, allow me to reiterate, but briefly, yes, about how the mind works.

Dualism Mind

We have two minds, namely the conscious mind and the subconscious mind. Both of these thoughts have functions and duties of each. Both of these thoughts work together and influence each other.

The conscious mind has 5 functions / components are analytical, rational, will power, a critical factor, and short-term memory.

The subconscious mind has 10 functions / components, including: storing long-term memory, emotions, habits, and intuition.

Well, each of these thoughts, conscious and unconscious mind, has the task of protecting ourselves. The conscious mind to protect ourselves from the (deemed) harm us, based on the "view" function that is rational and analytical mind.

According to Milton Erickson subconscious to protect ourselves from the things which he saw the physical safety and emotional harm us.

Charles Tebbets in his book, which has now become the classic book, Miracles on Demand, said: "Conscious mind is the mind of choice. Subconscious mind is the mind of preference. We choose what we prefer. "

Tebbets also goes on to state that hypnotherapy works on the principle as follows:

-All mal-adaptive behavior is the result or consequence of an improper adjustment responses, selected to meet the needs in the actual childhood was not appropriate / relevant to the condition as adults.
-Most of the diseases are psychosomatic and unconsciously chosen to escape from a situation, which by the client, is seen as a condition to the charge of excessive pressure destructive emotions, such as anger, hatred, resentment, and fear, that exceeds the client's ability to cope at that .

Actually there is another one that is non-conscious mind. But on this occasion I will discuss about the function and how it works.

Mental Furnace

To facilitate the understanding of the mechanisms of my subconscious mind using the analogy of mental furnace. Mental furnace containing water (read: many a thought / thought). The fire heats the furnace is a range of emotions, both positive and negative, which is experienced by a person.

Under normal conditions when the fire was burning furnace and the temperature will rise up to a certain temperature water vapor will appear to move freely to the top because the furnace is not closed. But what happens when the furnace is sealed?

At higher temperatures, due to continued heated by the fire of emotions, especially negative ones, it would appear that steam moves upward. But this time the steam can not get out because it is trapped in a sealed furnace. The longer the higher the furnace temperature, the more vapor is trapped, so the higher the vapor pressure presses all over the walls in the furnace.

What happens if the furnace still sealed?

Sure. Until at one point, when the vapor pressure exceeds the durability of the furnace wall, there will be a huge explosion and the furnace will fall apart.

Well, what about humans? Do not worry, we will not explode like the example above the stove. In humans, the subconscious mind will protect ourselves by doing things that are necessary to save ourselves from the "destruction".

What will the subconscious mind?

The subconscious mind will create tiny cracks in our mental stove so no escape for the steam inside the mental furnace. Thus, the pressure will go down and not harm the integrity of the mental furnace.
Well, when the steam from the furnace exit and reads ... sssshhh ...... ssssshhhh .... that is when a person will experience changes in behavior.

Changes in behavior is a manifestation of the steam coming out. Usually these changes are not sudden. But slowly and progressively worse.

What do we do with people who have experienced a change in behavior?

We tend to align their behavior, correct or not?

Can it be?

Oh, it certainly could. There are many ways and techniques that are commonly used. The question is change to be "normal" again this can last how long?

Often can not last long. Would appear again later behavior "bizarre". Why does this happen? Since we only clog crack in the wall furnace. When the steam is not out then it becomes normal behavior.

And because we did not find the source of the problem, namely the fire which is under the stove (read: unresolved emotions) then sooner or later the steam pressure inside the furnace back up and to the point will leak again.

The reader, by reading this far I am sure you would come to the conclusion that the symptom is something positive. Symptom is a form of communication from the subconscious to the conscious mind that says, "Hey ... this is a problem down here. You need to resolve this issue. If you still do not want to understand or unwilling to solve this problem then I will continue to bother you. "

The problem is not that we do not want to solve the problem but we often do not understand the messages conveyed subconscious mind. And often when we want to solve this problem we do not know how or techniques used inappropriately.

So, how effective way to handle this?

First, we need to release vapor trapped inside the furnace. How? Use steam as clues to find a crack in the wall of the furnace. It is said by Milton Erickson with "The Symptom is the solution".

Once we managed to remove the vapor pressure is up next and we can open the furnace lid. Can you imagine what happens when the stove lid opens when the pressure is still very high. This is equivalent to opening the radiator cap while the car is still hot. Very dangerous.

The contents of the furnace is content related or memory or that make the emergence of symptoms. After this then we can find the source of the fire and also put out the fire.
What happens when the fire was extinguished? It is no longer a mental furnace heat. Thus, the temperature will not rise. And of course there will be no steam pressing furnace walls. It will not cause cracks and leaks. Clients will return to normal life.

Why Direct Suggestion Ineffective?

In handling a variety of cases with a high emotional charge, of course I'm referring to here is a negative emotion, then Direct Suggestion ineffective.

Why are not effective? Because Direct Suggestion only eliminate the symptom, not the root problem. One of the properties of the subconscious mind is lazy to change. The subconscious mind judge something as being true or untrue and not based on the truth that is really true, but more based on the data stored in the database in the subconscious mind. The subconscious mind operates by law Familiarity or also known knowns and Unknowns.

From the above we know that the illness or symptom is actually a protective mechanism used by the subconscious mind to "save" someone. So when the subconscious mind feels is "right" to make someone a "sick" then, if it is forced to change by using the Direct Suggestion, of course he would refuse. And the more we are forced then he increased the intensity of the fight with the "pain" or "disorder".

There are 4 steps to be taken to get rid of symptoms quickly, effectively, efficiently, and permanently:

1.Memori related to or resulting in the appearance of symptoms should be brought up to the surface and consciously known.
2.Perasaan associated with this memory to be experienced again.
3.Hubungan between symptoms and memory must be known.
4.Pembelajaran subconscious or emotional nature have occurred and allow the client to make informed decisions in the future regardless of the content that has been raised.

Therapeutic technique that solely uses Direct Suggestion able to "cure" the client. But the "cure" is not going to last long. A few moments later will reappear symptoms, symptoms can be prolonged or even new. Healing is actually the result of filling the cracks in the walls of the furnace so that the steam mental for a while could not get out.

Case Example

I will close this article with a few examples of successful cases handled by using the Theory of Mental Furnace.
First, the case of a client, a woman 39 years old, who complained that the mind loves to count the numbers (counting numbers), and if the bathroom for a long time.

This woman said that she had OCD (Obsessive Compulsive Disorder). I do not know if it was true he had OCD or not. Why? Since this is a term used in the world of psychology or psychiatry. I am not a psychologist or psychiatrist. So I can not use this term.

Based on the Theory of Mental furnace then I saw her behavior as a form of mental steam leak from the stove. Well, my job is to, with various techniques that I have learned and mastered, search and find the source of the fire, and then help the client's deadly fire.

The process of uncovering bring clients at the age of thirteen. Something happened here. I help clients turn off the fire. The next day I told the client that he had a normal bath and also not counting numbers.

The second case is one of the cases handled by QHI alumnus. Alumnus successfully treat a woman, aged 29, who is allergic to sugar or something sweet like candy or drink Coca Cola. Every time eating or drinking sweet the agency's clients will instantly swollen and itchy.

Strangely, if you eat rice or bread his mediocre. Though rice or bread contain carbohydrates that after entering into the body would be sugar.
Back again, with the Theory of Mental Furnace, graduated successfully helping clients find the fire.

What happened?

At the age of 3 years client is looking undue incident he saw and after that he was given candy. This is the ISE. Furthermore, some events happen again, which is really the SSE-SSE, at different ages. Finally, when the newly emerging junior mints allergies.

How many sessions are needed to help this client? Only one (1) session only.

A third example is a client who was 40 years old. Client complaint was that he could not drink water. Every time you drink water the stomach will ache and vomited. But if the water is given a syrup, or sugar, or made tea or coffee, then no problem. Upon investigation it turns out the client is not able to drink water since the age of 4 years.

Dibutuhan only 1 (one) session only to find the source of the fire and extinguish it. After that client can directly drink water.

How about phobias? The principle is the same.

Readers, you would ask, "How do I find a fire could quickly?"

It would be very long if I explain here. This is what I have given 100 hours of hypnotherapy training class hosted by Quantum Hypnosis Indonesia.


(Tulisan ini diambil dari www.adiwgunawan.com dengan ijin penulis)

Friday, November 16, 2012

FILOSOFI GUNUNG ES - ICE BERG


Tulisan Terkini

Posted by aguscen in Self Development.
trackback


 
gunung-es.jpg

Kita semua tahu bahwa yang menenggelamkan kapal Titanic adalah bagian bawah dari gunung es, bukan bagian atasnya yang hanya kelihatan kecil di atas permukaan laut. Bagian bawah gunung es inilah yang penting.

Manusia dapat kita gambarkan sebagai gunung es, di mana bagian atas dari gunung es sebesar 20% dari kapasitasnya ini adalah, perilaku, tindakan, dan keputusan. Ketiga hal inilah yang dapat kita lihat dan amati. Sedangkan 80% yang ada di bawah sadar, berupa Belief, Value, Identity dan Skills. Ini adalah bagian yang tidak terlihat yang menentukan bagaimana kita berperilaku, bertindak dan membuat keputusan. Bagian 80% inilah yang menentukan hasil yang kita dapatkan.

Pertanyaannya adalah, apakah Anda senang dengan hasil yang Anda dapatkan selama ini? Jika ya, bagus sekali, selamat buat Anda. Jika tidak, apa yang harus kita lakukan untuk merubah hasilnya?

Seperti yang dikatakan oleh penulis dari “The Secret of Millionaire Mind” T. Harv Eker, jika kita tidak senang dengan buah yang kita dapatkan, kita tidak dapat merubah buahnya. Yang harus kita perbaiki adalah apa yang diserap oleh akarnya, dengan kata lain, apa yang kita masukkan ke dalam pikiran kita, tepatnya pikiran bawah sadar kita. Akar pohon ibarat 80% dari gunung es, yang tidak kelihatan atau yang bersembunyi di bawah permukaan laut. Dengan merubah apa yang tidak kelihatan ini, maka kita akan merubah hasil yang kita dapatkan. Hasil yang kita dapatkan berasal dari program pikiran yang ada dalam pikiran bawah sadar kita.

Belief adalah apa yang kita yakini.
Value adalah apa yang kita anggap penting.
Identity/identitas adalah siapa kita sendiri, maksudnya kita memandang diri kita sebagai apa.
Skill adalah apa yang kita kuasai untuk mendukung identitas kita.

Nah, apabila hasil yang Anda dapatkan tidak sesuai dengan keinginan Anda, maka yang perlu diubah adalah keempat hal ini. Apakah ini bisa diubah? Jelas bisa. Apakah ini mudah dilakukan? Ya dan tidak, Ya jika Anda sudah tau caranya, tidak jika tidak tau caranya.

Sebelumnya, bagaimana hubungan keempat bagian ini dalam menentukan hasil yang kita dapat?
Identitas Anda menentukan bagaimana cara Anda melihat diri Anda, mari kita ambil contoh konteks seorang karyawan, jika Anda adalah seorang karyawan biasa, Anda akan memandang diri Anda sebagai seorang karyawan yang biasa-biasa saja, maka Anda akan bekerja, masuk kantor dari jam 9 sampai jam 5, dan menyenagi bos Anda. Jika identitas Anda adalah seorang karyawan yang teladan, Anda tentu akan melakukan pekerjaan dengan perasaan yang berbeda, Anda mungkin menikmati saat-saat Anda dalam bekerja, identitas menentukan bagaimana menjalani sebuah program.

Dengan identitas Anda sebagai seorang karyawan biasa misalnya, maka Anda akan melakukan hal-hal yang Anda anggap benar sebagai seorang karyawan yang biasa, Anda akan bekerja dengan santai, tidak ingin menyelesaikan tugas dengan cepat, malas-malasan. Untuk apa bekerja keras, toh nanti hasil yang Anda dapatkan juga akan sama saja. Ini adalah salah satu contoh dari belief dari karyawan yang biasa-biasa saja.
Sedangkan seorang karyawan yang baik memiliki keyakinan bahwa, “jika saya bekerja dengan baik, bekerja dengan keras, untuk membantu perusahaan tempat saya bekerja menjadi semakin baik, maka saya akan mendapatkan penghasilan yang lebih baik.” Maka Anda akan melakukan yang terbaik dari dirinya. Anda memiliki keyakinan bahwa dengan bekerja keraslah maka Anda bisa mendapatkan kehidupan yang diinginkan.

Sedangkan value, atau apa yang Anda anggap penting dalam hal karyawan yang baik adalah masuk kerja mulai dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore dan menyelesaikan tugas Anda di kantor. Ini adalah hal yang Anda anggap penting. Jika Anda tidak menganggap ini penting, maka Anda tidak akan melakukannya. Jika Anda tidak melakukannya maka ini bertentangan dengan belief Anda, yang mana menegaskan Anda bahwa dengan bekerja keraslah Anda bisa memiliki kehidupan yang Anda inginkan. Begitu pula dengan sebaliknya.
Kemudian, Anda akan menguasai atau tidak menguasai keahlian tertentu, untuk mendukung apa yang Anda yakini dan yang Anda anggap penting. Semuanya selaras dengan belief dan value Anda.

Jika hasil yang Anda dapatkan tidak sesuai dengan apa yang Anda harapkan, mungkin saja identitas Anda tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh tempat Anda bekerja (karena kita membicarakan konteks sebagai karyawan), atau bisa jadi belief Anda menghambat Anda, atau value Anda tidak sama dengan value yang dituntut pekerjaan. Dan mungkin Anda tidak memiliki keahlian yang tepat dalam melakukan pekerjaan, atau Anda perlu meningkatkan keahlian Anda.

Keempat bagian inilah yang mempengaruhi bagaimana Anda berperilaku, bertindak dan membuat keputusan.
Bagaimana merubah belief? Untuk merubah belief, kita perlu mengerti bagaimana belief terbentuk, dengan mengetahui cara sebuah belief terbentuk atau terinstall, maka kita dapat meng-uninstall belief tersebut. Bagaimana melakukannya? Kita akan membahasnya di artikel yang berbeda.

Sama juga dengan Value, Value sendiri adalah belief yang sudah mengkristal. Belief-belief yang sudah begitu mendarah daging dalam program pikiran kita, sehingga tidak terbantahkan.

Dengan menerima, mengerti apa yang terjadi dalam pikiran kita, otomatis kita mengetahui siapa kita, memang tidak mudah untuk mendefinisikan dalam tingkat yang lebih tinggi. Namun kita dapat mencobanya dengan hal-hal kecil.

Tanpa kesadaran, kita tidak akan bisa berubah. Dengan menyadari hal-hal kecil yang terjadi dalam diri kita, maka kita melatih pikiran kita untuk menjadi sadar dengan setiap perubahan atau apa pun yang terjadi dalam diri kita.

Dengan ini, maka kita dapat merubah apa yang ingin kita ubah.



English :  
ICE BERG PHILOSOPHY


We all know that the sinking of the Titanic is the bottom of the iceberg, not just parts of it that looks small on the surface of the sea. The bottom of the iceberg that is important.


Humans can be described as an iceberg, where the top of the iceberg for 20% of this capacity is, behaviors, actions, and decisions. The third thing is that we can see and observe. While 80% of those under the unconscious, in the form of Belief, Value, Identity and Skills. This is the part that does not look that determine how we behave, act and make decisions. Section 80% is what determines the results we get.



The question is, are you happy with the results you get for this? If so, well done, congratulations to you. If not, what should we do to change the outcome?



As said by the author of "The Secret of Millionaire Mind" T. Harv Eker, if we are not happy with the fruit we get, we can not change men. What we have to fix is ​​what is absorbed by the roots, in other words, what we put into our minds, our subconscious mind exactly. Tree roots are like 80% of the iceberg, which is not visible or hiding under the surface of the sea. By changing what is not visible, then we will change the results we get. The results that we get from the program is in the mind of our subconscious mind.



Belief is what we believe.



Value is what we think is important.



Identity / identity is who we own, that we see ourselves as anything.



Skill is what you can do well to support our identity.



Well, if your results are not to your liking, then that needs to be changed is the fourth this. Can this be changed? Obviously can. Is this easy to do? Yes and no, yes if you already know how, not if you do not know how.



Previously, how the four parts in determining the results that we can?



Your identity will determine how you see yourself, let us take the example of the context of an employee, if you are a regular employee, you will see yourself as an employee who is mediocre, then you are going to work, get in the office from 9 am to at 5, and menyenagi your boss. If your identity is an exemplary employee, you will certainly do the job with a different feeling, you might enjoy the moment you are at work, the identity of a program to determine how to live.



With your identity as an ordinary employee, for example, then you will do things that you think is right as a regular employee, you will work with a relaxed, did not want to finish tasks quickly, lazily. For what hard work, yet later the results you get will be the same also. This is just one example of the belief of employees mediocre.



While a good employee has a belief that, "if I worked well, working hard, to help the company I work for to be getting better, then I'll get a better income." Then you will do the best of him. You have confidence that by working hard at it you can get the life you want.



As for value, or what you think is important in terms of a good employee is off work from 9 am to 5 pm and complete your tasks in the office. These are the things you consider important. If you do not think this is important, then you will not do it. If you do not do so is contrary to your belief, which confirms you that by working hard at you can have the life you want. So did the opposite.



Then, you will master or not master certain skills, to support what you believe in and what you consider important. Everything is in harmony with the belief and value you.



If your results do not match what you expect, it may be your identity does not match what is required by your place of work (as we discuss context as an employee), or could be holding you back your belief, or value is not equal to value required by the job. And maybe you do not have the right skills to do the job, or you need to improve your skills.



The fourth part is what affects how you behave, act and make decisions.



How to change the belief? To change your belief, we need to understand how the belief is formed, by knowing how a belief is formed or installed, we can uninstall these belief. How to do it? We will discuss in a different article.



Same with Value, Value itself is a belief that has been crystallized. Belief-belief that has been so ingrained in our minds program, so it is not indisputable.



By accepting, understand what's going on in our minds, we automatically know who we are, it is not easy to define in a higher level. But we can try it out with the little things.



Without awareness, we can not change. By being aware of the small things that happen inside us, then we train our minds to be aware of any changes or anything that happens within us.



With this, we can change what we want to change.